Minggu, 15 November 2015

Garis Batas



Laki-laki, makhluk yang katanya tercipta untuk menjaga perempuan
Tapi ada masa ketika aku tidak ingin terlalu akrab dengan laki-laki
Tentu saja aku perempuan normal
Tapi aku selalu merasa ada yang berbeda denganku
Mungkin aku belajar dari kehidupan lampau
Dan membuat peraturan-peraturan sendiri untukku
Salah satunya adalah membuat garis batas dengan makhluk yang mereka sebut laki-laki itu
Cukup lama aku bertahan dalam garis batas itu
Hingga suatu ketika aku tergoda melewatinya..
Melewatinya entah karena inginku membantu seseorang
Atau karena egoku ingin membuktikan bahwa aku pun bisa seperti perempuan lainnya
Tak jelas alasannya, aku pun melewati garis batas itu
Entah dia yang mendekatiku, atau aku saja yang terlalu membawa perasaan
Tapi aku menikmati saat aku bersamanya
Menikmati saat-saat membantunya, mendengarkan cerita masa kecilnya
Dan menikmati di kala diam di sampingnya
Hingga aku tersadar, aku sudah terlalu jauh melampaui garis batas yang ku buat
Aku ingin meneruskan jalan yang sudah ku lewati
Tapi teman-teman di sekitarku selalu mengingatkanku akan garis batas itu
Jika dulu aku membuat garis batas karena egoku
Tapi kini garis batas itu terbuat dari kecintaanku pada Sang Pencipta
Ya, Sang pencipta yang telah menciptakan dia
Dia yang membuat ku tergoda melewati garis batas itu..

Kapan Cerita Itu Berawal



Aku tidak tahu kapan cerita ini berawal
Di almamaterku, aku bukanlah anak yang aktif apalagi terkenal
Aku tidak banyak bicara dan temanku pun rata-rata adalah teman tugas kelompok
Sedangkan dia,
Dia memang tidak mencolok di kelas,
Tetapi di luar sana, temannya baik laki-laki ataupun perempuan, sama banyaknya
Setiap dia melangkah, ada saja yang menyapanya
Bak artis saja
Tapi tidak denganku
Bahkan untuk mengenal orang yang cukup terkenal itu pun aku tidak tertarik
Ya, aku hanya fokus pada diriku
Mungkin orang-orang di luar sana menyebutku egois
Tapi.. aku tidak tahu bagaimana ini berawal
Ketika itu aku duduk dengan teman-teman kelompokku
Dan dia pun disana sebagai teman dari teman ku
Aku tidak peduli
Ya,..yang ku pikirkan tugasku selesai, aku bebas, hanya itu
Beberapa kali dia hadir di tengah pembahasan tugas kelompok kami
Kadang aku kesal karena dia memecah fokus teman-teman, termasuk aku,
Ya.. tentu saja dengan bahasannya yang menurutku tidak penting
Pernah suatu kali dia menggodaku
dan aku kesal
tapi sepertinya kekesalanku justru malah menambah inginnya untuk mengganggu
ya..lebih tepatnya mengganggu, bukan menggoda..
seringnya iya mengganggu, kadang sudah menjadi hal biasa bagi teman-teman lain
bahkan aku jadi bahan ledekan dengannya
tapi tidak tahu sejak kapan, kadang aku menanti dia menggangguku

Si Penggoda Datang



Si Penggoda Datang

Gadis lima belas juta
Ya.. sudah lama aku tak mendengar kata-kata itu
Kesibukanku dengan tugas akhir dan perintilannya semakin menjauhkan ku dari kata-kata itu
Kalaupun terdengar, kupingku seolah memiliki filter otomatis
Kelulusan dan pekerjaan baruku pun membuatku semakin terjauh dari teman-teman
Ya, setelah lulus aku tidak menunggu waktu lama untuk mendapatkan pekerjaan
Tapi jujur, pekerjaan mengubah hidupku
Hidup seperti zombi, dan tak melihat matahari sungguh melelahkan
Akhir minggu ku pun lebih banyak kuhabiskan di tempat tidur
Tiga bulan aku bertahan dengan kehidupan zombiku
Hingga akhirnya aku mengajukan surat resign pada atasanku
Aku sedih kehilangan pekerjaanku, tapi ada perasaan lega terselip di hatiku
Dan aku semakin menyadari bahwa pintu rezeki Allah tidak hanya datang dari satu pintu
Terlepas dari pekerjaan lamaku,
Aku mendapat kepercayaan menjadi bagian dari sebuah tim penelitian
Memang tidak tetap, tapi aku merasa lebih hidup disana
Terlebih teman-teman tim ku beberapa berasal dari jurusan yang sama denganku
Jadi aku tidak perlu sulit beradaptasi dengan tim ini
Dan ternyata si ‘artis kampus’ yang dulu sempat menggodaku juga ada disana
Bagiku hal itu tidak masalah, godaannya pun juga sudah kulupakan
Mungkin itu sudah hampir setahun berlalu,
Dan saat ini paling tidak aku dengannya tak secanggung dulu
Tapi ternyata sikap usilnya masih sama seperti dulu
Dia membajak telepon genggamku untuk menggodanya
Seolah aku lah yang menggodanya disini
Aku kesal, tapi tak sekesal saat dia menawarku lima belas juta
Mungkin usia ku yang bertambah membuatku lebih menerima orang lain
Ya.. biarlah, toh aku hanya perlu bersabar sampai penelitian ini berakhir
Lagian itu hanya godaan-godaan kecilnya, masih banyak hal yang membuatku bahagia disini
Teman-temanku..